29.4.07

Saatnya Kita Belajar Dari DEPLU Thailand

Tanpa sengaja, ketika pertama kali mendengar rumor jatuhnya harga tiket Egypt air, dari 8000 dh ke 3500 dh PP, saya mencoba menelusuri jejak berita melalui saudara saya om Google, dan jawabannya ternyata hanya kesalahan teknis salah satu crew egipt air yang salah uploading data harga tiket waktu update situsnya, akhirnya mengantarkannya ke arah pemecatan, dan harga tiket sudah kembali normal sekarang.

Yang menarik, ketika saya googling tentang thiland pakai tool arabic language yang nangkring paling atas itu ternyata situs DEPLU thailand yang sudah berbahasa arab, dengan jargon " thailanda ardul ajaib, multaqo maadi wal haadir" .. menarik dan bagus. sungguh suatu perhatian yang luar biasa terhadap pasar timur tengah, sikap politik, wisata dan tentunya promosi citra negaranya. juga dilengkapi dengan adanya pembentukan Halal center untuk makanan dan pendirian bank islami, lihat deh lengkapnya di link ini:

http://www.thai2arab.com/arabic/index.php



Mari kita googling Deplu kita, mau pakai tool bahasa apa pun yang nangkring paling atas itu selalu sitenya "Wikipedia" seolah-olah wiki labih banyak dikunjungi daripada site resmi deplu, bahkan kalau mau melihat rating, deplu junior jauh lebih tinggi, kenapa yach? dan yang lebih memilukan saya, ternyata kita hanya punya dua versi bahasa saja; Indo dan English, kapan deplu kita punya versi Arab resmi?? (atau mungkin ada tapi saya belum menemukannya) . dan, andaikan versi arab itu kita sama sekali enggak punya, jangan terlalu besar deh mimpi jadi pionir perdamayan di timteng, dengan bahasa arab saja alergi gimana dengan politiknya??

Terakhir, dengan keterbatasannya almuni timteng ternyata thailand bisa menghadirkan berbagai situs resmi versi arab, moso kita dengan berpuluh2 ribu lulusan timteng belum mulai juga arabisasi. yah.. mungkin sampai juga kini saatnya kita harus belajar dari negri tetangga kita, untuk lebih mengenal apa masalah kita.

Moga bermimpi........


15.4.07

Asia Dan Afrika Penting Bagi Perdamaian Dunia (Bagian 2)

( Dikutip Dari Buku "Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat" Perjalanan Diplomatik H. Imrad Idris, Halaman: 133-135 )

Esok harinya, tanggal 3 Mei 1960, Presiden Soekarno, disertai oleh sebagian besar anggota rombongan, dengan pesawat Constellation Royal Air Maroc berangkat ke kota Marrakech, 260 km di selatan Rabat. Presiden Soekarno dalam perjalanan didampingi Putera mahkota Moulay Hassan. Penyambutan di Marrakech sama dengan di Rabat, dimulai dengan upacara adat, kemudian berkeliling kota, meninjau gedung-gedung berserjarah. Tengah hari diadakan santapan tradisional Maroko dan sorenya rombongan Presiden bertolak ke Rabat. Malamnya Raja Mohammad V menjamu Presiden Soekarno dan 16 anggota rombongan dalam Banguet Royal yang diadakan di Istana Dar-es-Salaam.


Dalam jamuan resmi ini Raja Mohammad V menyambut Presiden Soekarno sebagai seorang pahlawan kemerdekaan dunia Islam dan seorang pemimpin perjuangan Indonesia yang tangguh. Ia berharap, lawatan Presiden Soekarno dapat merupakan sumbangan positif untuk kerjasama lebih erat antara Negara-negara Asia dan Afrika. Dalam pidato balasannya, Presiden Soekarno menegaskan pentingnya kedudukan negara-negara Asia dan Afrika dalam stabilitas perdamaian dunia. Ia berharap pristiwa-pristiwa yang mulai bergolak di Afrika mendapatkan perhatian dan penilaian yang sungguh-sungguh dan tepat. Tanpa penilaian tepat dari pristiwa-pristiwa itu, dan tanpa diperlakukannya keadilan politik dan sosial terhadap Negara-negara Afrika yang baru merdeka, tidak akan dapat terlaksana pengertian yang baik antara negara-negara itu dengan dunia luar.

Raja Mohammad V menganugrahkan Bintang Mahkota (Orde du Trone) kepada Presiden Soekarno. Presiden Soekarno sebaliknya menganugrahkan Bintang Sakti kepada Raja Mohammad V. dalam kesempatan itu Presiden Soekarno menyerahkan cek sebesar US$ 10.000 kepada Raja Mohamad Vsebagai bantuan Pemerintah RI untuk korban gempa bumi di kota Agadir tanggal 25 Pebruari 1956 yang menewaskan lebih dari separuh penduduknya.

Selama kunjungan Presiden Soekarno, di Rabat dan di Marakech di dinding gedung-gedung sampai pohon-pohon di tempelkan foto-foto Presiden Soekarno. Di gedung-gedung pemerintahan yang penting di pasang foto besar Presiden Soekarno dan Raja Muhammad V. selain itu, mulai dari bandara Sale, di jalan-jalan yang dilalui oleh Presiden Soekarno dan rombongan, baik dirabat dan juga Marakech, dipasang pula spanduk-spanduk yang mengelu-elukan persahabatan Maroko dengan Indonesia dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Kementrian Penerangan Maroko membagikan kepada pers bahan-bahan penerangan tentang Indonesia yang disadur dari bahan-bahan penerangan yang dibawa dari paris. Radio Maroko memperdengarkan lagu-lagu Indonesia pada tanggal 1 Mei diadakan siaran khusus, wawancara dengan Duta Besar Nazir Pamuntjak. Fasilitas lain yang diberi oleh Kementrian Penerangan Maroko ialah komunikasi radio selama 1 jam tiap hari dengan RRI Jakarta.

Kunjungan Presiden Soekarno ke Maroko ini merupakan kontak pertama antara kepala negara dengan pemerintah dan kedua pihak yang diharapkan dapat membuka jalan bagi mereka untuk salaing lebih mengenal. Kunjungan Presiden Soekarno juga lebih memperkenalkan Indonesia di luar negri. Sungguh pun begitu, bagi bangsa Maroko ini bukan merupakan perkenalan pertama dengan Indonesia. Melalui Presiden Soekarno, Indonesia sudah dikenal luas di Maroko. Sekarno disegani sebagai Pemimpin Revolusi Indonesia. Lebih dari itu, ia tidak dapat dilihat terlepas dari Konferensi Asia-Africa. Tidak sedikit diantara rakyat Maroko, terutama yang muda, yang mendengar pidato Presiden Soekarno di konferensi Asia-Afrika merasa betapa isinya memberi harapan kepada perjuangan bangsa mereka. Seperti dikatakan oleh seorang mahasiswa Maroko, “bagi saya pidato Presiden Soekarno di Konferensi Asia-Afrika ini menambah keyakinan saya untuk lebih gigih meneruskan perjuangan bangsa kami yang waktu itu sedang melalui taraf yang sulit sekali”.

Berkata pula seorang pemuda Maroko’ “saya bersama beberapa teman sedang berada di restoran ketika mendengar berita tentang pembukaan Konferensi Asia-Afrika. Serentak kami berpekik: Vive Bandung!. Tanpa menyadari bahwa agen agen polisi Pemerintah masih merajarela. Segera seorang Prancis berpakaian preman mendatangi kami, tetapi kami semua sempat melarikan diri. Bernada kritis adalah komentar yang diberikan oleh seorang wartawan Maroko. Ia berkata, “Bangsa Indonesia telah memberi contoh kepada kami bagaimana seharusnya kami bertindak terhadap kaum penjajah. Dalam hal ini Bangsa Indonesia lebih beruntung, karena letak Indonesia sangat jauh dari Negeri belanda. Letak geografis Maroko tidak memungkinkan kami menggunakan cara perjuangan seperti Indonesia, tetapi kami yakin bahwa Raja kami akan bertindak bijaksana, membimbing negara dan rakyat Maroko”.

Kunjungan Presiden Soekarno Ke Maroko (Bagian 1)

( Dikutip Dari Buku "Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat" Perjalanan Diplomatik H. Imrad Idris, Halaman: 131-133 )

Pada tanggal 4 Januari 1960, saya masih bertugas di Kuala Lumpur dan menerima kawat dari Kemlu yang menginstruksikan agar saya bergabung dengan misi khusus yang akan mempersiapkan kunjungan Preiden Soekarno ke Maroko. Kunjungan itu dijadwalkan bulan Mei 1960. saya diminta sudah ada di Paris sebelum tanggal 8 April 1960 untuk melapor kepada Duta Besar Nazir Pamontjak yang telah ditunjuk mengetuai misi khusus tersebut. Nazir waktu itu Duta Besar RI di Manila. Di Paris, tanggal 8 April di KBRI saya bertemu Nazir. Ia sudah dating beberapa hari sebelumnya. Menurut Nazir, dia yang mengusulkan kepada kemlu agar saya mendampingi dia untuk misi khusus. Di Paris saya bertemu dengan Supono Prioatmodjo, kepala Bagian Penerangan di KBRI Bern. Ia juga ditunjuk kemlu untuk bergabung dengan misi khusus, demikian pula Marzuki, Pejabat Tata Usaha di KBRI Paris. Selama di Paris kami mengerjakan persiapan bahan-bahan penerangan dalam bahasa Perancis, seperti Pancasila, riwayat hidup Presiden Soekarno, riwayat hidup Menlu Soebandrio dan brosur-brosur bergambar. Dari KBRI Cairo dipesan bahan-bahan penerangan dalam bahasa Arab. Dari Kuala Lumpur saya membawa beberapa piringan hitam dengan lagu-lagu Indonesia dan partitur Indonesia Raya.

Setelah KBRI Paris menghubungi kedutaan besar Maroko. Pada tanggal 18 April 1960 Nazir dan staf terbang ke Sale, bandara Rabat, hari itu juga Nazir berkunjung ke Direktur Protokol Istana. Sesudah itu diterima oleh Perdana Mentri / Menlu Abdullah Ibrahim. Segala sesuatu diatur oleh pemerintah Maroko secara marathon, esok harinya Nazir menyerahkan kepada Raja Maroko, Mohamad V, surat-surat kepercayaan sebagai Duta Besar RI dalam misi khusus untuk Maroko, Nazir juga menyempatkan untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada para kepala perwakilan diplomatic, walaupun harus diseleksi.

Presiden Soekarno dan rombongan tiba di Bandara Sale pukul 2.40 siang tanggal 2 Mei 1960. dating menyambut di bandara, Raja Muhamad V, Putera Mahkota Moulay Hassan, Perdana Mentri/Menlu Abdullah Ibrahim, para mentri dan pembesar Maroko, sipil dan militer dan para anggota korps diplomatic. Sepanjang jalan, kiri dan kanan mulai dari bandara sampai kota Rabat penuh dengan rakyat, di dekat bandara dikerahkan pasukan berkuda dari suku Berber yang menembakan bedil-bedilnya sebagai tanda gembira, sebelum memasuki kota Rabat, iringan mobil berhenti dan diadakan upacara adapt dimana kepada Presiden Soekarno disajikan buah korma dan susu amandel. Membuka iringan ialah sedan dengan kap terbuha dengan Presiden Soekarno dan Raja mohamad V. mereka berdiri dan melambaikan tangan membalas sambutan rakyat.


Setelah memasuki kota rabat, iringan diatur demikian rupa agar melalui bagian-bagian kota yang dihuni rakyat. Penduduk tua-muda, berjejel di tepi jalan, bersorak-sorak mengelu-elukan Presiden Soekarno dan Raja Mohammad V. sesampainya di bagian baru kota Rabat, sekali lagi iringan mobil berhenti, kali ini untuk mempersilahkan Presiden Soekarno menggunting pita sebagai tanda peresmian nama jalan atas namanya, yakni sharia Al-Rais Ahmed Sukarno. Jalan ini berdekatan dengan kantor Pos Pusat. Presiden Soekarno kemudian menuju Ke Istana Dar-es-Salaam, di mana ia menginap. Perlu ditambahkan bahwa sebelum rombongan Presiden Soekarno tiba, sebuah jalan lain, juga di tengah kota Rabat telah ditukar namanya menjadi zangkat Jakarta. Di Casablanca, sebuah bunderan diberi nama rondpoint de Bandung.